Harga Sebuah Mimpi
Kematian adalah kepastian yang suatu hari akan menemui setiap manusia. Kita mungkin tidak pernah tahu kapan ia datang, tetapi kita tahu bahwa tidak seorang pun akan selamanya tinggal di dunia.
Sementara itu, kelahiran adalah cerita yang berbeda. Sebelum seorang manusia hadir dan menangis untuk pertama kalinya, ada begitu banyak kemungkinan yang harus dilalui. Ada pertemuan, pertumbuhan, dan proses panjang yang tak selalu berjalan sebagaimana mestinya. Ada kehidupan yang diperjuangkan, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu bagaimana akhirnya.
Maka, ketika seorang bayi akhirnya lahir ke dunia, orang-orang menyebutnya keajaiban.
Barangkali, memang demikian adanya. Sebuah kehidupan tidak pernah sesederhana tanggal yang tertulis di akta kelahiran. Ia adalah hasil dari perjalanan panjang yang mempertemukan begitu banyak kemungkinan, hingga satu nyawa akhirnya mendapat kesempatan untuk hadir di antara miliaran manusia lainnya.
Namun, pernahkah kita berpikir bahwa setiap kelahiran tidak hanya membawa satu kehidupan, melainkan juga melahirkan sesuatu yang lain: mimpi?
Pada saat seorang bayi membuka mata untuk pertama kalinya, tidak seorang pun tahu akan menjadi apa ia kelak. Tidak ada yang dapat menghitung berapa banyak harapan yang akan tumbuh di kepalanya, seberapa jauh langkahnya akan berjalan, atau seberapa besar dunia yang ingin dijangkaunya.
Barangkali ia akan menjadi seorang guru, dokter, penulis, atau seseorang yang memilih jalan yang tak pernah terpikirkan oleh siapa pun. Barangkali pula, ia hanya ingin tumbuh menjadi manusia yang hidup dengan tenang, tanpa harus terus-menerus merasa takut terhadap hari esok.
Apa pun bentuknya, ada satu hal yang patut kita sepakati: setiap kelahiran membawa kemungkinan-kemungkinan baru. Dan di dalam kemungkinan itu, ada mimpi yang perlahan menunggu kesempatan untuk tumbuh.
Sayangnya, tidak semua mimpi mendapatkan tanah yang cukup lapang untuk berakar.
Kita sering mengatakan bahwa setiap orang boleh bermimpi setinggi langit. Kalimat itu terdengar indah, mudah diucapkan, dan seolah-olah tidak menyisakan alasan bagi siapa pun untuk menyerah. Namun, bagi sebagian orang, bahkan membayangkan langit pun terasa seperti kemewahan.
Bagaimana seseorang bisa memikirkan masa depannya ketika hari ini saja ia belum tahu apakah besok masih bisa makan? Bagaimana seorang anak dapat membayangkan sekolah yang tinggi ketika setiap pagi ia harus memikirkan bagaimana caranya agar tetap bisa bersekolah? Bagaimana seseorang berani menyebut cita-citanya ketika keadaan di sekelilingnya berkali-kali mengajarkan bahwa keinginan adalah sesuatu yang sebaiknya dikubur sebelum sempat tumbuh?
Di hadapan keadaan semacam itu, bermimpi bukan lagi perkara keberanian semata. Ada kebutuhan yang harus lebih dahulu dipenuhi, ada keadaan yang harus diperjuangkan, dan ada pintu-pintu yang tidak terbuka hanya karena seseorang mengetuknya dengan penuh harapan.
Sebagian orang tidak berhenti bermimpi karena kehilangan keinginan. Mereka hanya terlalu sibuk bertahan hidup hingga tak lagi memiliki ruang untuk memikirkan kehidupan seperti apa yang ingin mereka bangun.
Sebab, bagi sebagian orang, makan adalah cara untuk bertahan. Namun, bagi sebagian lainnya, bertahan bukan semata-mata tentang bagaimana perut bisa kenyang hari ini, melainkan juga tentang bagaimana mereka tetap memiliki alasan untuk bangun esok pagi. Mereka bertahan karena masih ingin belajar, karena masih ingin mengubah nasib, karena masih menyimpan satu kemungkinan kecil bahwa hidup mereka bisa menjadi lebih baik.
Kita memang tidak dilahirkan hanya untuk makan dan beranak cucu. Manusia memiliki daya untuk membayangkan sesuatu yang belum ada, mengusahakan sesuatu yang belum tercapai, dan memberi makna pada kehidupan yang sedang dijalaninya.
Mimpi, dalam pengertian itu, bukan sekadar keinginan untuk memiliki sesuatu. Ia adalah salah satu cara manusia membayangkan kehidupan yang lebih mungkin untuk diperjuangkan.
Akan tetapi, bagaimana mungkin seseorang dapat memperjuangkan mimpinya jika sejak awal ia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mengenal berbagai kemungkinan yang tersedia baginya?
***
Di sinilah, kita perlu memahami bahwa setiap manusia berhak bermimpi, tetapi tidak setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk mewujudkannya.
Hak untuk bermimpi seharusnya tidak bergantung pada seberapa banyak harta yang dimiliki seseorang, di mana ia dilahirkan, atau seberapa tinggi pendidikan orang tuanya. Namun, kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan mengejar mimpi sering kali ditentukan oleh hal-hal yang bahkan tidak dapat dipilih seseorang ketika ia dilahirkan.
Karena itu, anak-anak tidak cukup hanya diberi nasihat agar berani bermimpi. Mereka membutuhkan ruang untuk mengenali dirinya, kesempatan untuk belajar, serta orang-orang yang bersedia membantu mereka melewati keterbatasan yang belum sanggup mereka atasi sendiri. Terutama orang tua.
Ketika seseorang memutuskan untuk menghadirkan seorang anak ke dunia, ia tidak sekadar menyambut sebuah kehidupan baru. Ia juga menerima tanggung jawab untuk menemani kehidupan itu bertumbuh.
Anak yang hari ini digendong dengan penuh kasih, suatu saat akan berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Ia akan mengenal dunia melalui pengalamannya, membentuk pemikirannya, dan menemukan keinginan-keinginan yang mungkin berbeda dari apa yang pernah dibayangkan kedua orang tuanya.
Orang tua memang tidak dapat menjamin bahwa seluruh mimpi anaknya akan menjadi kenyataan. Tidak semua jalan bisa dibuat mudah, tidak semua kesulitan bisa disingkirkan, dan tidak semua keinginan dapat dipenuhi.
Namun, orang tua dapat berusaha agar keterbatasan yang dimiliki anak tidak bertambah panjang hanya karena ia tidak pernah diberi kesempatan untuk mencoba.
Mereka dapat menjadi jembatan, bukan tembok. Menjadi tempat pulang, bukan ruang yang membuat anak takut untuk melangkah. Membantu anak mengenali dunia, bukan menentukan seluruh isi dunia yang harus ia tinggali.
Sebab, keberanian melahirkan seorang manusia semestinya diiringi kesediaan untuk menghormati kehidupan yang telah dilahirkan itu.
Namun, ada satu hal yang kerap luput kita bicarakan: orang tua pun juga manusia. Sebelum menjadi ayah atau ibu, mereka adalah seseorang yang pernah memiliki keinginan, menyimpan cita-cita, dan membayangkan kehidupan yang ingin dijalaninya.
Mereka pernah menjadi anak-anak yang menatap masa depan dengan caranya sendiri. Mereka pun pernah memiliki mimpi yang mungkin belum selesai, bahkan mungkin belum sempat diperjuangkan.
Lalu, ketika waktu berjalan dan tanggung jawab semakin bertambah, sebagian dari mereka perlahan menyimpan mimpi itu. Bukan selalu karena mereka tidak lagi menginginkannya, melainkan karena kehidupan meminta mereka mendahulukan banyak hal.
Ada keluarga yang harus dinafkahi, anak-anak yang harus dibesarkan, dan kebutuhan yang tidak bisa menunggu sampai cita-cita mereka tercapai.
Mimpi itu kemudian disimpan di suatu tempat yang jarang dikunjungi. Sesekali muncul ketika melihat seseorang berhasil melakukan sesuatu yang dahulu pernah mereka inginkan. Sesekali terasa ketika melewati tempat yang mengingatkan mereka pada kehidupan yang pernah dibayangkan.
Namun, lebih sering, mimpi itu dibiarkan diam, seolah-olah ada batas waktu tertentu bagi manusia untuk menginginkan sesuatu bagi dirinya sendiri. Seakan-akan, ketika seseorang telah menjadi orang tua, ia harus selesai dengan dirinya sendiri.
Padahal, sejak kapan manusia kehilangan hak untuk bermimpi hanya karena usianya bertambah? Sejak kapan tanggung jawab membuat seseorang tidak lagi boleh memiliki keinginan untuk tumbuh?
Mengapa kita begitu mudah mendorong anak-anak untuk mengejar masa depan, tetapi terkadang merasa aneh ketika orang tua ingin memulai sesuatu yang baru bagi dirinya sendiri?
Orang tua juga berhak belajar kembali, memulai kembali, dan memperjuangkan sesuatu yang pernah tertunda. Mereka juga berhak memiliki kehidupan yang tidak seluruhnya diukur dari apa yang telah diberikan kepada orang lain. Menjadi orang tua memang mengubah banyak hal, tetapi tidak semestinya menghapus kenyataan bahwa mereka tetap manusia, dengan kebutuhan, harapan, dan kemungkinan-kemungkinan yang masih dapat tumbuh.
Barangkali, persoalan yang lebih rumit muncul ketika mimpi yang lama disimpan itu menemukan jalan lain untuk hidup: melalui anak-anak mereka.
Kita sering mendengar orang tua berkata bahwa mereka ingin anaknya memperoleh kehidupan yang lebih baik. Mereka ingin anaknya bersekolah lebih tinggi, mendapatkan pekerjaan yang layak, hidup berkecukupan, dan memiliki kesempatan yang dahulu tidak mereka miliki.
Ada cinta di dalam harapan itu. Ada keinginan tulus untuk memutus rantai kesulitan yang pernah mereka alami. Ada doa agar anak-anak mereka tidak perlu melewati jalan terjal yang sama.
Namun, di antara harapan yang tulus itu, terkadang terselip sesuatu yang tidak disadari: keinginan agar anak menuntaskan mimpi yang belum selesai diperjuangkan orang tuanya.
Seorang ayah yang dahulu ingin menjadi sarjana berharap anaknya kelak mengenakan toga. Seorang ibu yang pernah mengubur keinginannya untuk bekerja ingin anak perempuannya memiliki karier yang baik. Seseorang yang dahulu tidak memiliki kesempatan untuk menjelajahi dunia berharap anaknya dapat pergi sejauh mungkin.
Tidak ada yang sepenuhnya salah dari harapan-harapan tersebut. Bahkan, sering kali harapan itulah yang membuat orang tua bertahan dan bekerja keras demi masa depan anak-anaknya.
Namun, ada satu pertanyaan yang perlu diajukan dengan jujur: apakah mimpi yang sedang diperjuangkan seorang anak benar-benar mimpinya sendiri, ataukah ia sedang memikul sesuatu yang telah lama ingin diselesaikan oleh orang tuanya?
Sebab, anak bukan kelanjutan dari kehidupan yang gagal dituntaskan orang tuanya. Ia bukan tempat untuk menitipkan seluruh keinginan yang dahulu tidak sempat terwujud.
Ia adalah manusia baru, dengan kehidupan yang belum pernah dijalani siapa pun sebelumnya. Ia mungkin mewarisi cerita keluarganya, tumbuh dari pengorbanan orang tuanya, dan belajar dari pengalaman yang telah mendahuluinya. Namun, semua itu tidak membuatnya harus memiliki tujuan hidup yang sama.
Ada perbedaan antara mewariskan harapan dan mewariskan kewajiban untuk mewujudkan mimpi orang lain.
Orang tua boleh berharap anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik. Mereka boleh mengenalkan berbagai kemungkinan, membuka jalan, dan memberikan bekal agar anak mampu melangkah lebih jauh.
Akan tetapi, anak tetap berhak menemukan makna hidupnya sendiri. Sebab, mimpi yang baru saja dilahirkan melalui kehadirannya bukanlah mimpi lama yang berganti rupa. Ia adalah mimpi baru, dengan arah, ukuran, dan arti yang mungkin sama sekali berbeda.
Pada akhirnya, mungkin inilah harga sebuah mimpi yang sesungguhnya. Bukan semata-mata seberapa besar pengorbanan yang harus dibayar untuk mewujudkannya, melainkan juga seberapa jauh kita bersedia menghormati hak setiap manusia untuk memilikinya.
Kita tidak selalu dapat memilih tempat kelahiran, keadaan keluarga, atau kesulitan yang akan menyambut kita ketika tumbuh dewasa. Kita pun tidak dapat memastikan bahwa setiap mimpi akan berakhir sesuai harapan.
Namun, kita dapat berusaha menciptakan kehidupan yang memberi lebih banyak ruang bagi manusia untuk mencoba, belajar, dan menentukan arah langkahnya sendiri.
Barangkali, tugas kita bukan memastikan bahwa setiap anak tumbuh menjadi seseorang yang sesuai dengan harapan kita. Tugas kita adalah membantu mereka tumbuh menjadi seseorang yang mampu mengenali harapannya sendiri.
Dan barangkali, tugas kita juga bukan memaksa orang tua melupakan mimpi-mimpi yang pernah mereka miliki, melainkan mengingatkan bahwa mereka masih berhak memperjuangkannya, tanpa harus menjadikan kehidupan anak sebagai satu-satunya jalan untuk mewujudkannya.
Sebab, setiap kelahiran adalah awal dari sebuah kehidupan yang baru. Setiap kehidupan membawa kemungkinan yang berbeda. Dan setiap manusia, berapa pun usianya, seharusnya tetap memiliki ruang untuk membayangkan hari esok yang ingin ia tuju.
Maka, jika suatu hari kita bertanya mengapa mimpi begitu mahal bagi sebagian orang, barangkali jawabannya bukan karena mereka bermimpi terlalu tinggi. Mungkin, sejak awal, dunia memang belum menyediakan cukup banyak ruang bagi semua orang untuk tumbuh dan mengejar apa yang mereka inginkan.
Dan selama masih ada manusia yang harus mengubur mimpinya hanya agar dapat bertahan hidup, pekerjaan kita belum selesai: bukan sekadar mengajak mereka bermimpi, melainkan ikut membuka jalan agar mimpi itu memiliki kesempatan untuk tumbuh.