ke atas
Image
03Oktober

Cerita di Balik Setapak

Pagi hari di desaku selalu dimulai dengan suara kokokan ayam di kandang rumah, dan burung yang bernyanyi di pematang sawah. Udaranya sejuk … sekali, tak jarang aku menggigil kalau anginnya terasa kencang.
Di sini, aku lebih sering bertemu kakek-kakek, nenek-nenek, kemudian laki-laki atau perempuan paruh baya. Oh iya, anak kecil juga ramai di sini, mereka kalau menangis atau merengek kencang sekali, entah apa saja yang ditangisi .... Padahal mereka hanya perlu bermain, makan, mandi juga tidur tepat waktu. Mereka juga tidak melakukan itu semua sendiri. Ah, apa dulu aku juga seperti itu, ya? Pikirku.
Oh ya, aku selalu heran mengapa kakak-kakak yang usianya sedikit lebih muda daripada ibuku jarang sekali terlihat di sekitar desa. Padahal aku selalu senang kalau mereka ada di rumah. Rumahku jadi lebih hidup. Kelak, saat aku seusia dengan mereka mungkin aku bisa memahaminya, kata ibuku suatu hari. Apa pun itu, aku senang terlahir dan hidup di sebuah desa.
Kerap kali aku melihat kakek-kakek yang mengenakan kaos berwarna oren, hijau atau pun biru terang bertuliskan CV Pupuk Sumber Abadi atau UD Petani Makmur, dan masih banyak lainnya. Warnanya terlalu mencolok, dan tulisannya terlalu besar, jadi aku bisa membacanya dengan jelas. Lebih mengejutkannya lagi, hampir seluruh penduduk desa memiliki baju yang sama.
Angin pagi menyapu halus wajahku. Di depan sana, terbentang ladang persawahan. Orang-orangan sawah bergerak-gerak samar, dengan loceng kecil di atasnya yang membuat bunyi-bunyi kecil, sehingga menghalau burung untuk higgap di atas padi.
“Disa!” seseorang melambai di kejauhan.
Netraku menembus ke seberang ladang mencari si pemilik suara. Seorang perempuan paruh baya dengan daster bunga-bunga, rambutnya tersanggul mungil berwarna perak termakan usia. Terdapat kerutan samar di pinggir mata dan bibirnya, namun tatapannya tetap tajam, seolah menembus dadaku yang berada di seberang pematang sawah.
Aku hanya menyengir, rambutku yang dikepang dua bekas semalam sudah layu, bergerak-gerak. Akhirnya kedua tanganku terangkat tinggi balas melambai ke seberang. “Sebentar saja Eyang, ini hari minggu”
“Kamu belum mandi dan sarapan, pulang dulu baru main di ladang!” wajah rentanya bersungut-sungut di seberang. “Kau yang pulang ke sini atau aku yang menjemput ke seberang?”
Sontak aku berlari kecil menjauh dengan tetap melambaikan tangan dan menatap ke seberang. Namun, sepersekian detik kemudian.
BRAK
“AAAAAAAA …!!” tubuhku terjerembap jatuh ke dalam sawah, basah penuh dengan lumpur, kakiku terperosok tenggelam hingga sebatas paha. “Eyang!!!”
Perempuan itu berjalan tergopoh menghampiriku. Daster bunga-bunga diangkatnya supaya langkahnya sedikit membesar. Sesampainya di Seberang, tanpa sadar sudut bibirnya terangkat tipis sebelum mengulurkan tangannya. “Kan Eyang sudah bilang, mandi dulu. Kali ini ladang yang menyuruhmu mandi, lihat? Apa kamu mau mandi besok saat hari berganti senin?” nada bicaranya terdengar tenang, entah ini sedang menghiburku atau sebaliknya, melempar sarkas terhadap kondisiku.
Aku hanya bergeming, mataku mulai memanas ingin menangis karena merasakan perih di betisku yang lecet terkena kayu. Tanganku yang penuh lumpur berusaha menyingkap rambut kecil di depan mataku.
“Aduh, jangan dilap dengan tangan … wajahmu jadi penuh lumpur.”
Aku meraskan lenganku sedikit ditarik agar langkahku lebih cepat. Setelah beberapa meter, kami sampai di jalan setapak, Langkah kami mulai melambat. “Lihat Disa, kakimu sudah tidak berbentuk,” matanya mengarah pada kaki kecilku yang dipenuhi lumpur bercampur tanah kering dan kerikil yang menempel.
“Sendal Disa hilang kemarin sore. Habis main petak umpet.”
Perempuan itu hanya menggeleng pelan mengusap wajahnya. “Disa lihat, kaki Eyang? Lebih gelap dan kasar bukan?”
Aku mengalihkan pandang sejenak. Kaki Eyang memang terlihat demikian, seperti sudah terlalu lama menapaki bumi, entah cerita apa saja yang tersimpan di dalamnya. Entah sudah berapa kilometer jarak yang pernah dijejakinya. “Iya, kaki Ibu sepertinya lebih halus ….”
“Disa pernah lihat jari tangan kanan kakek di bagian telunjuk?
Aku mengangguk kecil.
“Dulu, kakekmu pernah melaut. Saat itu Eyang dan Kakek baru menikah. Kakek bekerja semalaman, supaya dapat upah lembur. Sebab ibumu harus membeli seragam sekolah lusa. Malangnya, jari telunjunknya tertimpa alat berat di kapal. Meskipun begitu, ia menunda pengobatannya dan tetap bekerja.”
“Lalu? Apakah kakek akhirnya mengobati telunjuknya? Bagaimana bisa jadi bengkok seperti sekarang?”
“Ya, setelah dua hari dibungkus dengan kain seadanya. Eyang marah besar saat itu, sambil menariknya untuk pergi ke klinik di desa.”
Bersamaan dengan itu, Disa melihat kedua mata Eyang menerawang jauh menembus dimensi ruang dan waktu. Eyang kembali membuka suara dan mulai bercerita.

***
Beberapa tahun yang lalu, Beni pulang melaut dengan wajah yang pucat. Tangannya terbungkus kain lusuh, matanya sayu, namun sudut bibirnya masih terangkat samar.
“Aku pulang.” Wajahnya menyembul di depan pintu, dengan satu tagan meraih kusen pintu mencoba menyeimbangkan tubuhnya.
Wati yang melihat pemandangan itu sontak meletakkan panci kecil dari genggamannya. “Kau baik-baik saja, Ben?” tangannya mencoba meraba wajahnya bermaksud memeriksa suhu tubuhnya.
Seketika Beni ambruk, Wati reflek berteriak histeris, sementara anak kecil berusia lima tahun menangis di belakangnya. Tetangga yang mendengar segera membantu menggotong Beni menaiki gerobak tua untuk dibawa ke klinik. Sebab memang itulah kendaraan darurat untuk menuju klinik.
Beni terkena tetanus akibat luka yang terlambat diobati. Beruntung, telunjuknya tak harus dipotong, hanya saja bentuknya sedikit berdeda dari sebelumnya.
Namun, telunjuk yang hampir patah itu berhasil membayar beberapa pasang seragam sekolah dan mengantarkan putrinya untuk duduk di bangku sekolah tepat pada waktunya. Beni mengulas senyum puas, sementara Wati tersenyum getir memandang telunjuk yang tak bisa berubah pada wujud semula.
Telunjuk itu kini menyimpan cerita, kalau dipikir kembali, mungkin tak hanya telunjuk. Hampir seluruh sudut kehidupan, hingga yang terkecil sekali pun, membuat benturan yang membentuk manusia.

***
Sorot mata Eyang tampak teduh setelah menyelesaikan cerita. Kami baru sampai di sebuah gazebo kecil di dekat rumahku. Di dekatnya, ada keran air. Aku dibantu Eyang untuk membersihkan kakiku.
“Besok-besok bawa sendal Disa, kalau tidak kakimu bisa seperti Eyang. Lihat?” tutur Eyang menasihati.
“Tapi kaki Eyang yang gelap dan kasar bisa membawa kaki ibu menjadi sebaliknya jika dibandingkan Eyang”
Eyang mendongak agar mata kami bertemu, “Dari mana kamu belajar bicara seperti itu”
Aku mengedikkan bahu, “Entah … hanya terlintas … pantas saja ibu hebat sekali … mungkin sebab dibesarkan oleh Eyang dan Kakek yang tak kalah hebatnya.”
“Kamu bisa saja,” Eyang mengusap pelan puncak kepalaku. “Kalau begitu, cucu Eyang harus lebih hebat daripada Ibu ya,” Eyang menjeda kalimatnya dan menghela napas pelan.
“Dengan tidak main ke pematang sawah pagi-pagi buta.” Eyang mencubit kecil hidungnya. “Bisa-bisa kakimu seperti nenek, atau telunjuk kakek jika kamu mainnya tidak berhati-hati”
Aku hanya terkekeh, rambutku yang terkena lumpur Sebagian telah sedikit mengering dan mengeras bergerak-gerak. Aku memukul pelan bahunya, namun Eyang segera menjauhh takut terkena lumpur dari bajuku.

Oleh: Azeta Fatha Zuhria
logo